Diberdayakan oleh Blogger.

Unexpected―Dare to Accept it

by - Mei 29, 2021

 
Photo by Javier Allegue Barros on Unsplash

Kata orang hidup itu adalah pilihan. Tapi pada kenyataannya, gak jarang juga kita hanya bisa menerima. Menerima hal yang jauh dari perkiraan, menerima hal diluar ekspektasi kita. ya,

UnexpectedDare to Accept it    

    Dua tahun yang lalu, di hari ini, mungkin gue lagi bingung-bingungnya. karna di tanggal 04 mei 2019, gue baru aja di Wisuda dari SMA. Cause from then on, all the complicated thoughts had finally started~ 
 
    Sebagai remaja usia 17-18 tahun, yang kemarin rasanya masih cengengesan di SMA, masih enjoy banget ikutan organisasi ini-itu, sesekali mabal pas jam pelajaran, masih nikmatin masa-masanya ke kantin bareng temen, atau sekadar rumpi pas jam istirahat, kesulitan memikirkan 'Masa Depan' atau 'Tujuan Hidup' adalah hal yang wajar banget menurut gue. apalagi keputusan atau hasilnya nanti, sedikit-banyak akan berpengaruh besar terhadap kehidupan kita selanjutnya. once kita udah dealing dengan pilihan tersebut, mau gak mau, at the end of the day, kita juga harus bisa dealing dengan segala macam konsekuensi yang mungkin aja akan kita terima nantinya. 
makanya, kalau sampai saat ini gue ketemu sama orang dewasa yang bahkan belum tau tujuan hidup mereka apa, itu tidak mengherankan, sih. karna kenyataannya memang gak mudah. 

    Di kasus gue, yang buat gak mudah, justru biasanya karna kita terlalu takut akan kegagalan dari ekpektasi kita sendiri. menaruh harap yang berlebih. padahal...
rasa takut akan kegagalan, justru lebih menyakitkan daripada kegagalan itu sendiri. 
percaya deh, nyatanya, kegagalan orang-orang yang sukses diluar sana mungkin lebih banyak dari pada rasa takut yang ada dalam pikiran kita.  
      
    Balik lagi, ke seorang Indri pada 2 tahun yang lalu. pada saat itu gue mencoba untuk memilih, gue buat short list sampai long-term list apa aja yang mau gue lakukan. yes, i'm a tough visionary. gue juga mecoba untuk melakukan hal-hal yang gue rasa mendukung terwujudnya pilihan tersebut. waktu demi waktu, usaha demi usaha. ternyata tidak begitu membuahkan hasil. am i not capable? maybe. tapi satu hal yang pasti, ternyata saat itu bukan waktu yang tepat untuk gue mewujudkan pilihan tersebut. atau, gue memang lagi gak perlu milih aja, pada saat itu ternyata gue cuma perlu menerima.

    Umumunya sebagai manusia dan khusunya pada diri gue, menerima hal yang tidak sesuai dengan rencana itu bukan suatu hal yang mudah. It was hard and hurts at the same time. Ternyata, egosentrisme dan idealisme masih mendominasi perasaan gue pada saat itu. gue berontak, gue kecewa, gue kesal, gue marah, gue khawatir. ya, kepada siapa? apakah kepada Indri Remaja? apakah kepada takdir? apakah kepada mimpi-mimpi gue? apakah kepada orang-orang disekitar gue? apakah kepada pilihan yang gue buat?, nggak. Ternyata, kepada ekspektasi yang gue bangun sendiri.

    
     Iya, pada saat itu gue ngerasain semua perasaan gak enak yang lumrah dirasakan oleh manusia, tapi secara bersamaan gue juga bersyukur. gue rasa, gue jadi manusia yang terpilih. gue merasa spesial dimata Tuhan. Perasaan itu muncul tepatnya setelah gue take foto ini:

    Ini adalah foto yang gue ambil sepulang dari yayasan, yup, itu kali ketiga gue balik ke Yayasan pencari kerja. tapi yaa, belum berhasil, belum ada perusahaan yang rekrut gue sebagai karyawannya. Gak lama dari foto itu, gue pulang kerumah dan sholat Dzuhur. setelah itu, gue buka Al-Quran dan baca Surah Al-Insyirah (94:1-8) yang artinya "kelapangan". gue baca ayat dan terjemahannya. entah kenapa, pada saat itu hati gue sangat yakin akan ketepatan janji Allah SWT. pada Surah tersebut. terutama pada ayat ini: 
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا – 94:6 
"sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan"
    
     gak lama kemudian, handphone gue berdering. Ada Telfon dari nomor kantor, yang ternyata HRD dari sebuah perusahaan yang mengundang  gue untuk tes disana. Rasanya senang sekali pada saat itu. Dan yang terpenting, gue akhirnya jadi sedikit lebih tau tentang arti "kelapangan" dan "berserah diri".
     
    lalu, apakah gue diterima di perusahaaan tersebut?. he he belum. ternyata jadi karyawan dan bekerja di perusahaan tersebut belum jadi bagian dari jalan hidup gue. Gue masih harus jadi Hitam-Putih Fighter dan nulis banyak lamaran kerja lengkap dengan map coklat sebagaimana umumnya para Pencaker 😀.
 

Hitam-Putih Fighter

 
map cokelat, pencaker vibes

     
 
    Oh iya, gue pernah cerita ke kalian disini tentang pergolakan batin gue untuk memperluas zona nyaman. Singkatnya, pada saat itu gue ditawarkan menjadi Admin juga sesekali menjadi pengajar di salah satu BimBa (Bimbingan Belajar) milik tetangga gue. Saat itu gue lumayan bingung, memilih antara gue yang minder karna takut gak bisa menghadapi anak kecil beserta keunikannya atau gue yang harus memperluas zona nyaman dengan menerima tawaran tersebut. Sampai pada akhirnya, gue menerima tawaran tersebut, ya, I'm just trying to expand my comfort zone. 
 

Indri dan buku-buku Administrasi-nya


    
belajar dan mewarnai

bermain lego

    
     Selama 10 hari gue berkesempatan untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran sekolah serta urusan administrasi lainnya. Awalnya gue masih bingung, tapi dari sana gue bersyukur, gue jadi bisa belajar pembukuan sederhana, he he. Gue juga dapat kesempatan untuk berinteraksi dengan mereka, anak-anak BimBa dengan berbagai karakteristik dan keunikannya, ada yang bawel, ada yang pendiam, ada yang aktif, ada yang cerdas, dll. Gue, orang yang awalnya ragu dan takut buat berhadapan dengan mereka, terutama ketika diminta untuk ngajarin mereka, ternyata bisa melakukan itu semua. Ternyata, malah gue yang banyak belajar dari mereka.
     
    Lalu, di hari ke-10 gue dapat panggilan untuk kerja di sebuah Retail yang cukup ternama di Indonesia, yaa pasti kalian tau lah😃. setelah 3 hari lamanya gue mengikuti proses Training, akhirnya gue diminta langsung bekerja sebagai kasir. Itu tandanya, hari ke-10 menjadi hari terakhir gue di BimBa. hu hu, good bye lil sweet 😢.

    
     Pagi itu gue diminta untuk memulai pekerjaan gue sebagai kasir, lengkap dengan seragam dan atribut ala mba-mba kasir. Gue langsung menuju ke toko dimana gue ditugaskan. Kurang lebih 50 menit dari rumah gue. Yup, kita gak bisa pilih penempatan sesuai keinginan kita atau dekat dengan domisili kita. semuanya ditentukan oleh Koordinator Wilayah Bekasi. again, kali ini gue hanya bisa menerima.

pakai seragam dan atribut untuk pertama kali

foto pertama untuk laporan ke KorWil

my cashier area

bersama rekan kerja ku

     
    Seminggu berlalu, ternyata gue bisa enjoy dengan pekerjaan gue. belajar aplikasi kasir, belajar service customer, belajar Stock Opname, belajar menata barang sesuai planogram/barcode, belajar Clerk (penyesuaian input dan output antara komputer/sistem dengan aktual), belajar dari rekan kerja, belajar dari atasan, dan masih banyak lagi hal yang gue pelajari dan gue bersyukur banget atas itu semua. 
 
hujan+perjalanan malam+jaket bapak-bapak

    Tapi, seminggu berlalu juga, gue dihadapkan pada keadaan yang mengingatkan bahwa gue manusia, makhluk yang tidak sempurna. yup, ternyata gue juga bisa lemah. Ternyata gue gak sekuat itu untuk kerja pulang-pergi berkendara sendiri dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam plus dengan kemacetan dan masalah perjalanan khas jalan raya serta resiko bahaya saat pulang larut malam. Tapi yang bikin gue makin ngerasa gak kuat, adalah sistem shift off yang memungkinkan gue misal baru pulang shift 2 di jam 1 malam, harus berangkat lagi untuk kerja shift 1 di jam 5 pagi. kedua hal tersebut yang akhirnya membuat gue memutuskan untuk resign tepat di satu bulan gue bekerja.

     
    2 bulan setelah resign dari retail tersebut. gue akhirnya dapat pekerjaan di salah satu perusahaan di Kawasan Industri. Setelah melalui tahap tes dan interview yang terbilang singkat, akhirnya gue diterima bekerja sebagai Operator Produksi, tepatnya di Divisi Masker. lagi dan lagi, gue bersyukur banget bisa bekerja disini, karna gue bisa belajar hal yang belum gue kuasai sebelumnya. Gue belajar di bagian packing, jadi support mesin packing, belajar welding, sampai akhirnya belajar mesin authomatic. Gue juga ketemu banyak teman dari berbagai latar belakang dan usia yang oleh karena itu, gue bisa belajar satu-per-satu dari mereka.

atribut APD saat kerja

bersama rekan kerja ku
 
    Oh iya, sebelum gue akhirnya bekerja di perusahaan ini, gue selalu kepingin kerja di bagian office. yaa, klasiknya seorang indri, pengennya jadi Admin. Gue usaha buat CV sebagus mungkin sampai berdo'a agar bisa kerja sesuai dengan apa yang gue suka, tapi ketika gue diterima di perusahaan ini pun, itu semua belum tercapai. Sampai pada akhirnya, tepatnya setelah 3 bulan gue bekerja disana, ada satu momen dimana gue lagi serius di proses welding, HRD tiba-tiba manggil gue dan menawarkan posisi Administrasi yang kebetulan saat itu sedang kosong. Setelah berpikir beberapa waktu, akhirnya gue memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Benar memang, Allah SWT itu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan, dan pastinya di waktu yang tepat. Benar juga, segala kesulitan dan struggle yang gue lalui, mengantarkan gue pada kemudahan-kemudahan yang ada di depan. 

meja kerjaku+berkas-berkas admin

doin' work with batik+sepatu pinjeman dari pak QC😁

     Lagi dan lagi, hal yang gue pelajari akhirnya bertambah, sebagai Admin, gue bisa belajar untuk buat SPK pemesanan, belajar buat surat jalan, belajar Supply Chain Management, bisa gaining knowledge tentang Microsoft Excel yang biasa dipakai di kantor, belajar sistem Delivery dari mulai contact customer-nyari supir-konfirmasi ke admin delivery-loading barang ke mobil, belajar Stock Opname untuk Warehouse, belajar merumuskan Job Order yang menentukan Raw Material untuk kebutuhan produksi, belajar sedikit-banyak dari Admin Purchasing dan Admin Marketing, belajar dari mengamati kerja seorang Leader, PPIC, HRD, bahkan Manager
 
~Menerima, cukup dengan menerima. Ternyata telah mengantarkan gue pada hal-hal yang gak pernah gue duga sebelumnya, mengantarkan gue pada kesempatan-kesempatan terbaik yang bahkan gak pernah terlintas dalam pikiran. Menerima, membuat gue berhasil menenangkan seorang Indri dari egosentrisme dan idealismenya. Dengan menerima, gue berhasil meyakinkan seorang Indri, bahwa hidup tanpa to-do list atau GPS adalah hal yang wajar bahkan terkadang menyenangkan. Yang gak kalah penting, gue akhirnya berhasil membuktikan bahwa "Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan" adalah janji yang pasti terjadi untuk orang-orang yang yakin Kepada-Nya~



 


 

 

 

 

You May Also Like

0 Comments