'Harusnya aku bersyukur' (part 1)
~disebuah yayasan pencari kerja~
Sebelumnya tidak pernah terbayangkan,
Sama sekali!
Bahwa aku,
Yang pernah memandang sebelah mata tentang bekerja setelah lulus SMA ini,
akan sampai ke momen ini,
momen mencari kerja,
di awal umurku yang ke-18
Tak disangka bro sist!
Ternyata ada ratusan job seeker disana,
Datang dari seluruh penjuru bekasi
Antre
Puanjanggg
Sempat ingin pulang saja,
Tapi untung tubuhku ini langsing haha
Sehingga bisa nyelip,
Dan sampai di meja pendaftaran.
Dari sana aku kembali belajar
Belajar tentang hidup ini
Belajar saat aku ditanya...
"Lulus tahun berapa?"
Ku jawab "2019, mba nya?"
"ooh baru lulus ya, klo saya lulus 2015, udah pernah kerja sih, di bagian kasir"
Kemudian ia bercerita
Belajar saat aku mengamati...
*ooh jadi sebanyak ini pencari kerja, lulusan tahun sebelumnya ditambah lulusan baru? Pantesan banyak banget! Sholawatin lah, suatu saat aku punya karyawan sebanyak ini. Aamiin*
begitulah kiranya hati ini berkata
Belajar saat aku mendengar...
"iya, saya pernah ke job fair sampai sesek nafas! Gabisa bergerak saking banyaknya, tapi nggak pernah ada perusahaan yang panggil, pas saya lihat di sosmed, ternyata ribuan cv dibuang gitu aja berserakan"
Hmm
Ternyata begitu banyak insan
Yang hatinya berharap
Kakinya melangkah
Tubuhnya berusaha
Tangannya menengadah dan berdo'a
Tapi ternyata,
Takdir tak selalu beriringan dengan harapan
Tetapi aku tahu
Bahwa itu bukan akhir dari segalanya
Itu tandanya
Do'a dan harap
Harus seimbang dengan usaha
Itu tandanya
Kata 'coba lagi'
belum bosan menemani
Semangat!
Belajarlah!
Berkembanglah!
Bersyukurlah!
'Harusnya aku bersyukur' (part 2)
~di perjalanan sepulang dari yayasan~
Siang itu,
Untuk ketiga kalinya
aku pulang dari yayasan pencari kerja
Yang pernah aku ceritakan sebelumnya
Yayasan yang sama
Tapi pelajaran yang kudapat
setiap harinya berbeda
Bertambah
Siang itu aku pulang
Naik motorku
Boncengan dengan seorang teman
Ah lebih tepatnya,
Kakak di komplek perumahanku
Siang itu di atas motor
Di bawah terik mentari
Ia bercerita
Tentang sepenggal kisah hidupnya
Tentang ia yang terbiasa mencari nafkah sedari kecil
Berjualan es di halaman rumah
Berjualan kue sebelum sekolah
Berdagang di pasar malam
Juga kakaknya
Yang ia sebut..
Perjuangannya lebih berat
Berdagang nasi kuning sepulang sekolah
Dan membawa pulang sisa nasinya kerumah
Juga upah tujuh ribu rupiah
Di hari libur
Kakaknya menjadi tukang bengkel
Dari pagi sampai petang
Kakaknya juga berdagang
Berdagang kue
Berdagang pakaian
Dan pekerjaan lainnya ia lakoni
Ia terus bercerita
mata nya berkaca-kaca
Ya itu terlihat dari kaca spion motorku
Sampai tak terasa
Tiba di depan rumahnya
Oh iya, dulu aku mengaji
Satu guru dengannya
Saat itu ustadzahku bilang
'Harusnya kalian bersyukur'
Rumah kalian sudah enak
Lebih baik dari kakak itu
Masih bisa sholat dengan nyaman
Dengan tentram
Dan tidak perlu berpindah rumah
Setiap tahunnya
Darinya aku kembali belajar
'harusnya aku bersyukur'
Setidaknya hidupku lebih baik
Aku tidak perlu peluh
Dan berkeringat
Demi sepeser rupiah
'Harusnya aku bersyukur'
Masih bisa sekolah
Tanpa memikirkan spp bulanan
Dan juga, harusnya aku terus berdo'a
Agar ayahku senantiasa bahagia
Sehat, panjang umur, dan sejahtera
Aku tahu
Kaki ayahku sudah menjadi kepala
Sebaliknya,
Kepalanya sudah menjadi kaki
Banting tulang!
Demi aku
Ia berjuang
Aih, aku selalu lemah kalau bahas orang tua:")
Intinya,
Harusnya aku bersyukur
Terus berdo'a
Dan terus berjuang
Karna umur ayahku menandakan
Bahwa sebentar lagi
ia pensiun dalam usia kerja
Giliran aku
Yang berjuang untuknya
Harusnya kamu, aku, kita
Bersyukur!
'harusnya aku bersyukur' (part 3)
Pagi ini 18 september 2019
Jam 09.05
Aku sedang berada di dalam ruangan
Hitam putih
Ah bukan ruangannya
Tapi baju yang dikenakan
Seratus orang di dalam ruangan ini
Sekarang aku akan tes kerja
Untuk kedua kalinya
Sempat ingin pulang
Karna katanya tidak ada lowongan
Untuk perempuan
Tapi untung aku ini cerewet
Dan ingin bertanya
Jadi aku menerobos saja
kerumunan ratusan pencari kerja
Eh ada mas-mas yang bilang
'lowongan buat cewe ngga ada mba, makanya tadi pada pulang'
Ah terserah apa katamu mas
Aku sih tetap terus antre
Maju kedepan
Dan bertanya
Tuhkannnn.. Ternyata ada lowongan
Akhirnya aku daftar
Dan naik ke lantai tiga
Ya, tempat aku duduk sekarang
Kursinya sekaligus meja
Kayak di perkuliahan
Aku sholawatin aja
Semoga tahun depan
Duduk dibangku seperti ini juga
Tapi judulnya 'berkuliah'
Aamiin
Saat akan naik ke lantai tiga
Ada mba-mba memanggilku
'mba tes juga? '
'ah iya'
'bareng ya, saya mau ke atas cowok semua'
Waduh
Pas aku dan mba ini naik
Ternyata memang cowok semua
Yasudahlah
Setidaknya aku belajar berani
Dan bertemu orang-orang baru
Disampingku ada mas-mas
Sepertinya asli jawa
Bahasanya medok
Ia bercerita tentang segala yang ada diisi kepalanya sepertinya
Ya sudahlah
Sepertinya tes juga masih lama
Jadi ku tunggu saja
Sambil menulis ini
Juga mendengarkan ceritanya
Dia ngomong jawa
Ngerti? Nggak!
Hahaha
Doakan aku berhasil
Dan semoga kalian juga berhasil
Di hari ini
Harusnya aku bersyukur (part 4)
Hari ini, 16 oktober 2019 pukul 08.47
Aku, sedang duduk bersama teman-teman
Yang baru aku kenal sejak pagi inj juga
Menanti wawancara kerja
di jam sembilan nanti
Sekarang aku pakai baju hitam putih
Mereka juga
Lagi lagi,
Harusnya aku bersyukur
Mereka sudah melamar di perusahaan ini sedari lama
Tapi aku, baru kemarin melamar
Eh, hari ini langsung wawancara
Aku bingung, sekaligus bersyukur...
Aku juga harusnya bersyukur
Karna dengan perjalanan ini
Aku bisa bertemu banyak orang baru
Wajah baru
Dengan Latar belakang baru
Ku harap wawancara nanti berjalan lancar
Toh dulu saat SMA aku sering wawancarain orang hahaha
Harusnya aku terbiasa
Dengan pertanyaan-pertanyaan nantinya
Lagi dan lagi
Harusnya aku bersyukur...
tunggu-tunggu! lo mau ceritain tentang kue ulang tahun, balon, dan segala perintilan surprise ya ndri? ahh kalo gitu gue males bacanya *dalem hati readers*
hahaha.. enggak kok para readers yang budiman, tenang ajee..
karena ini tentang hidup dan pendewasaan diri *eaa berat bat dah
jadi, di umur gue yang ke-18 ini, gue benar-benar mengalami yang namanya hidup. *lah selama ini kan lu hidup dodol* iya sih ok, repeat: gue benar-benar mengalami kehidupan yang sesungguhnya..
bukan kayak pas umur gue 4 tahun, waktu itu kayaknya gue lagi seneng karna baru masuk TK, pake seragam untuk pertama kalinya dan di foto sama om bud (om nya sahabat gue).
atau..
gak kayak pas umur gue 14 tahun, yang diceplokin pake tepung sama telor, terus lari-larian ngejar temen yang nyeplokin gue terus dipeluk-pelukin dah biar ikut kotor.
nggak! yang ke-18 tahun ini memang berbeda.
ulang tahun gue dari kecil emang gapernah dirayain, bahkan saking sedihnya dulu gue pernah ngumpulin semua boneka, dari yang barbie sampe tedy bear, dan tepuk tangan sendiri sambil puter lagu happy birthday yang berasal dari boneka beruang yang emang bisa nyanyi happy birthday dan megang kue+lilin di tangannya, terus gue tiup dah tu lilin di tangannya(read:lilin boongan) HAHAHA.
tapi semakin gede gue sadar, ulang tahun bukan perihal perayaan atau ucapan semata, lebih dari itu.. ulang tahun adalah momen bertanya dan garis start bagi gue *lah kok?*
iya, setiap bertambahnya umur, semakin ribet momen bertanya buat diri gue, tentang apa aja yang udah dilakuin selama ini?apa lo udah bisa jadi orang yang bermanfaat buat diri sendiri dan sekitar?iman dan taqwa lo udah setinggi apa?, dll.
ada yang bisa gue jawab, ada juga yang enggak.
ulang tahun juga jadi garis start buat gue, karena perjalanan tahun selanjutnya bakal dimulai, dannn tantangannya pasti lebih berat.,
dan itu benar-benar terjadi diakhir umur ke-17 dan di awal umur ke-18 ini.
dulu, mungkin hidup gue lempeng-lempeng aja, bangun tidur-maen-jajan-sekolah-ngaji*repeat
dulu juga gue gak pernah mikirin ini-itu kayak sekarang, yang ada di pikiran gue cuma maen sama jajan doang. dan terkadang, gue pengen balik lagi ke masa-masa itu.
di umur ke-17 dan awal ke-18, alhamdulillah gue dikasih jalan hidup yang bener-bener surprise sama Allah, ya. karena ternyata nggak sesuai dan berjalan beriringan sama planning yang gue buat.
dari situ gue kacau diiringi bersyukur. kenapa? karna dengan itu, gue merasa spesial disisi Allah. karna gue tau, Allah lagi ngasih challenge buat gue laluin, dan hadiah nya pasti lebihhh dari apa yang gue inginkan dan gue rencanain (ya walaupun gue juga belum tau hadiahnya apa). juga, gue yakin, dan bilang "Allah nggak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan gue. mungkin si A atau si B, ga akan mampu kalo ada diposisi lo ndri, tapi lo mampu!pasti mampu!"
dari kalimat diatas, kalian sadar kan? gue orang yang begitu visioner, semuanya direncanain, dan terkadang egois karna itu. makanya, Allah kasih surprise ini, biar gue ngarti, kalo hanya Allah lah yang maha perencana dan pembuat skenario terbaik.
dan sekarang, gue masih seorang visioner, masih bikin planning hidup, tapi bedanya, sekarang gue selalu dan masih belajar buat nurunin egosentrisme diri ini dan semua yang udah gue rangkai, gue serahin sama Allah, biar Allah yang realisasiin.
juga, belajar untuk terima semua kenyataan hidup, sepahit apapun itu, seenggak-meng-enakan apapun itu.
btw, gue abis posting snap WA kayak gini
"kata orang, kalo hidup mau lebih berwarna, harus keluar dari zona nyaman dulu. tapi menurutku enggak, kita cuma harus memperluas zona nyaman kita sendiri"-FL. Can I ?!? "
karena gue baru dapet tantangan hidup lagi, tentang 'keluar dari zona nyaman'
di berbagai paltform tes kepribadian, gue dapet hasil bahwa gue adalah seorang yang ekstrovert.
tapi sesungguhnya, banyak sisi pada diri gue yang sangat introvert kok.
contohnya sekarang.
jadi, kenapa gue bikin SW itu? karna, baru aja gue dapet tawaran kerja, untuk jaga sebuah dagangan di hari sabtu dan minggu malam.
bukan tentang tokonya atau bayarannya, nggak! nggak sama sekali. tapi tentang diri gue sendiri: yang masih gengsi kalo tiba-tiba ketemu orang yang gue kenal pas lagi dagang, yang masih takut ketemu orang lain di situasi yang nggak pernah gue bayangin sebelumnya, yang masih takut rasanya buat sekedar teriak "mbak, mas dibeli-dibeli".
intinya, tentang gue yang masih terlalu takut untuk memperluas zona nyaman.
padahal gue tau, ini cara Allah untuk coba mendewasakan diri ini,
terus? masa gue mau kabur dari tantangan ini?
oiya, sebulan lalu, gue juga dapet tawaran buat jadi guru BIMBA, terus gue udah kabur dari tantangan, dengan bilang "wah indri nggak bakat ngajar, nanti anak-anaknya indri omelin lagi"
padahal itu juga bisa jadi bekal buat gue hidup kedepannya.
fyuh. lantas, apakah gue harus kabur lagi kali ini?
dari segala proses pendewasaan ini?
cuma karna ego dan gengsi?
entahlah~
soon, i'll tell you the next story.
happy birthday indri;
selamat berproses,
selamat mendewasa,
selamat memperluas zona nyaman.
-unknown


